Minggu, 29 April 2012

menemukan wujud cintamu yang jatuh tepat di retina mataku

tadi pagi, aku berjanji dalam hati akan menuliskan tentangmu hari ini. masih lekat di ingatanku ketika kau melepaskan kepergianku tanpa sedikitpun senyum di bibirmu. perih hatiku melihat sikapmu. aku rasa dirimu hanya menganggap aku perhiasan, bukan manusia. aku serupa berlian yang bisa kau pamerkan kepada siapa saja dan seolah memperlihatkan betapa 'hebatnya' anda. setelah itu anda simpan tanpa sedikitpun sapaan. duh bunda.. kenapa kau begitu berbeda?
dari balik jendela, aku selalu mendengarmu bercerita kepada mereka. kau jabarkan segala hal yang aku bisa, bahkan terkadang terlalu berlebihan. sebenarnya aku ingin berteriak mengoreksi setiap perkataanmu, tapi aku takut menjatuhkan dirimu. karena bagaimanapun, aku sayang padamu. teramat malah.. mungkin kau saja yang belum mengetahuimya
ketika dirumah, aku benar-benar seperti batu yang tak dapat berbuat apa-apa. kau anggap aku seakan tak ada. padahal aku ingin membantu sedikit pekerjaanmu, tapi respon darimu jauh dari harapanku. aku sudah coba apa yang aku bisa. tapi semua hal itu serasa tak ada gunanya. sejumlah karya dan prestasi hanya sebatas label pada diriku yang nanti bisa kau bangga-banggakan pada orang lain. aku sudah tak ingat lagi kapan terakhir kita bercengkrama. bagiku, waktu ketika kita bisa bicara berdua adalah momen yang teramat langka. percayalah. aku sangat merindukannya.
setiap kau berangkat mengaji, aku selalu memendam harap dan seraya berdoa dalam hati semoga ketika kau pulang nanti akan ada perubahan positif darimu. tapi sampai saat ini aku belum menemukan wujud cintamu yang jatuh tepat di retina mataku. entah kapan ya, aku bisa merasakannya. setidaknya, aku ingin diperlakukan sama dengan kakakku. aku selalu tersenyum getir ketika melihat betapa perhatiannya dirimu kepadanya. bun, aku juga dong.. please..
aku percaya, setiap orang pasti akan berubah. semoga kau juga begitu. aku akan menunggunya. jangan lama-lama ya bunda.. :)

pintaku sederhana,,
aku hanya ingin mengabdi padamu dengan cinta yang utuh tanpa sedikitpun rasa benci di hatiku.
semoga cintaku lekas menyentuh hatimu.


Kamis, 26 April 2012

aku punya wacana untuk masa depan kita

sudah berapa lama kita mengenal? satu bulan, atau satu tahun? akh rasanya lebih lama dari itu. tapi aku selalu merasa baru kemarin kita bertemu. aku selalu suka ketika ada di sampingmu. mendengar setiap inci cerita bahagia dan sedihmu.bagiku, dirimu itu mengandung morfin yang memberikan efek bahagia pada diriku.sekarang kita sedang duduk bersama di bangku sebuah taman yang tak kukenal sebelumnya. temaram lampu taman menambah syahdu suasana. aku mulai berhitung dengan situasi. 10 detik berlalu, tapi dirimu belum juga angkat bicara. baiklah.. aku akan mulai perbincangan lebih dulu. tahukah kau? aku punya wacana untuk masa depan kita. aku sudah menyusun rencana dimana nanti kita akan menghabiskan sisa usia kita, juga tentang pengembangan bakat anak-anak kita nanti. kalau kita punya anak perempuan, aku ingin dia belajar memainkan biola. sedangkan anak laki-laki, aku ingin dia belajar memainkan piano. agar rumah kita nanti akan dipenuhi nada-nada indah yang akan menjadi penyejuk di keluarga kecil kita. tapi pada akhirnya, aku akan membebaskan mereka untuk jadi apa saja. selama itu baik, kenapa tidak? kurasa kau pun inginnya begitu. ah iya,, aku juga akan belajar memasak. terutama memasak makanan yang kau suka. maaf ya, jika sampai saat ini masakanku masih serba kekurangan. kurang garam, kurang gula, atau kekurangan yang lainnya. aku sudah dapat menebak rasa masakanku saat melihat wajahmu menyeringai ketika mencicipinya. dari sana aku tahu, bahwa ada sesuatu yang salah dengan masakanku. tapi kau selalu saja memujinya, dan dengan wajah terpaksa menghabiskannya. dan sesaat setelah itu, cintaku padamu akan selalu bertambah seperti kecepatan cahaya yang tak dapat dikalkulasikan dengan deretan angka. sudah tahu tentang itu? kurasa aku belum sempat mengatakan hal itu padamu.aku juga belum mengatakan tentang diriku yang kini sudah bisa menghilangkan kebiasaanku menuliskan nama di setiap kertas yang ada di depanku. itu memalukan katamu. haha
tawaku terhenti ketika menyadari ada hal yang aneh. kenapa kau tidak menanggapi perkataanku? bukankah kau selalu berkomentar atas apapun yang aku lakukan? aku hampir lupa bertanya kepadamu dimanakah kita berada. tapi tak ada guna jika aku bertanya sekarang. kulihat bayangmu perlahan memudar dan menghilang dari sisiku. aku tahu ini dimana. ternyata kita sedang berada dalam mimpiku. pantas saja semuanya terlihat begitu indah, bukankah dirimu memang sudah menghilang sejak dulu? aku benar-benar dikelabui oleh mimpiku sendiri, yasudah. biarkan aku bangun sekarang. karena aku harus melanjutkan hidupku tanpa bayangmu. aku harus menata hati dan pikiranku seraya mengubur dalam-dalam mimpi yang aku uraikan dalam mimpiku tadi. dan untuk dirimu, tolong jangan datang kedalam mimpiku lagi.

Jumat, 20 April 2012

membebaskan diriku dengan menulis sesuatu


Bisa terbaca dengan sangat jelas. Alamat blog ku adalah ‘ubahduniadengankata.blogspot.com’. aku belum lama bergabung disini. Kata orang, menulis blog itu menyenangkan. Mereka bisa jadi benar. Tapi mungkin aku belum bisa konsisten dengan visiku membuat blog. Aku ingin merubah dunia dengan kata-kata. Tapi bagaimana bisa mengubah dunia? Mengubah pikiran satu orang saja, aku belum tentu bisa. Hahaha apalagi aku belum punya pembaca. Yah.. tulisanku memang biasa-biasa saja. Belum bisa menggugah. Mungkin nanti, di suatu hari akan tiba masanya. Masa dimana aku bisa menulis sesuatu yang berguna bagi sesama, dan tentunya bisa merubah dunia. Aku terbiasa menulis sesuatu tanpa ada seorangpun yang membacanya. Aku senang menimpannya untuk diriku sendiri, dan mengenangnya di suatu hari. Tapi aku akan sangat bangga jika tulisanku dibaca, dan di hargai.
Belum banyak yang tahu tentang blog ku ini. Mungkin karena aku belum menjadi siapa-siapa, dan belum menjadi orang yang dicari tahu setiap beritanya. Aku hanya seorang remaja yang ingin membebaskan diri dengan menulis sesuatu. Setiap kata yang hinggap di kepalaku, sebisa mungkin aku tulis. Atau aku menampungnya, dan menuliskannya kemudian hari. Bagiku, pekerjaan yang amat luar biasa di dunia ini adalah menulis. Seperti berkunjung ke dunia yang berbeda. Dunia dimana hanya diriku sendiri yang memahami esensinya. Semenjak aku bisa membebaskan diriku dengan menulis sesuatu, aku hanya menuliskannya di kertas biasa. Di buku yang bisa aku pakai untuk menuliskan pelajaran. Tanpa hiasan atau motif seperti buku-buku diary yang biasa aku lihat ketika berkunjung ke toko buku. Aku bermimpi untuk punya laptop agar dunia bias membaca tulisanku dan aku akan semakin dekat dengan tujuanku. Yaitu bias merubah dunia dengan kata-kata. Dan sementara ini, aku masih menuliskannya di kertas biasa dan mempublikasikannya sesekali.
Suatu hari di masa depan nanti, aku akan kembali membaca apa yang aku tulis saat ini dan mengenangnya entah sambil menangis atau tertawa..
               

Minggu, 08 April 2012

merindukanmu dengan caraku


Merindukanmu adalah salah satu hal yang paling mengganggu dalam hidupku. Sesibuk apapun diriku, nyatanya aku masih bisa menyempatkan waktu untuk mengenang segala hal tentangmu. Tahukah kau, kegiatan seperti ini amat menyesakkan.  Bagaimana tidak, bayanganmu datang seperti hantu yang gentayangan di pikiranku tanpa pernah izin terlebih dahulu.
            Rinduku padamu tak seperti pelangi yang datang hanya sesekali. Rinduku serupa udara yang mengisi setiap celah kosong hariku. Aku tahu. Kini diriku tak penting lagi bagimu. Dan aku menyadari bahwa diriku kini bukanlah orang pertama yang ingin kau ajak bercerita. Mungkin sekarang sudah ada seseorang yang menjadi pendengar setia atas setiap cerita bahagia dan sedihmu. Disini, dengan perih getirnya perasaanku, aku masih berharap kau kembali seperti dulu. Tapi aku hanya bisa berharap dalam diamku.
            Masih lekat di ingatanku ketika kita pertama kali bertemu. Juga ingatan  tentang pertemuan-pertemuan kecil yang sengaja kita buat dengan berjuta alasan. Lucu memang. Bahkan terkadang salah satu dari kita harus berkorban untuk membayar harga mahal sebuah pertemuan. Aku masih mengingat detail tentang dirimu. Tentang kamu yang selalu mengomentari aksesoris yang kupakai, atau tentang kebiasaanmu memainkan pulpen di sela jemarimu. Aku selalu suka ketika kamu bercerita dan menjelaskan sesuatu padaku. Dari sanalah aku menyadari bahwa kau mengagumkan. Kau bukan laki-laki biasa. Setidaknya bagi diriku dan dalam hidupku.
            Sebentar. Aku mau menghela nafas dulu. Karena mengingat bagian ini amat menguras hati dan air mataku. Seperti video rekaman yang di putar ulang, kenangan tentang hari itu hadir dan berputar-putar di kepalaku. Kenangan tentang hari yang seharusnya indah bagi kita, tapi aku malah menghancurkan segalanya.
            Pada hari itu, kau membawaku ke tempat yang sebelumnya tak pernah aku kunjungi. Katamu, aku akan suka tempat itu. Yah.. kau memang benar. Tubuhku seketika kaku ketika melihat pemandangan yang ada di hadapanku. Hamparan taman bunga berjuta warna. Aku terdiam dalam jeda penjang. Lalu kurasakan dirimu memetik hujan di bumi hatiku yang kering kerontang. Waktu seakan terhenti ketika kau menyatakan cintamu lewat sebuah lagu
Now that I’ve tried to
Talk to you and make you understand
More than words to show my feel
That my love for you it’s real
Sepenggal lagu yang amat kukenali dan aku sempat tertawa ketika menyadari ada beberapa lirik yang kau ganti. Setelah itu kita sama-sama terdiam. Tapi sayang, pada saat itu aku gagal membaca tanda yang tergurat jelas di langit biru hatimu.ya Tuhan.. apa yang sudah aku katakan padamu? Aku malah menyuruh kau untuk menunggu. Lalu dirimu mengartikan itu sebagai penolakan dariku. Aku menyadari telah melakukan sebuah kekeliruan. Aku ingat sekali, pada hari itu kau mengantarku pulang. Tapi tak ada percakapan sepanjang perjalanan. Kita tenggelam dalam pikiran masing-masing. Dan sejak saat itu, aku menyadari bahwa dirimu memutuskan untuk pergi. Aku terus mencari dirimu tapi tak kunjung kutemui. Kau seakan hilang ditelan bumi dan pergi meninggalkan jasad memar ini.
            Maaf, aku menangis lagi. Karena ini adalah bagian yang paling aku sesali.
            Beberapa bulan berselang, dan aku menemukan dirimu sebagai sosok yang baru. Segalanya tak sama lagi. Tak ku temukan lagi binar itu dari matamu. Kita bertemu seolah tak pernah mengenal sebelumnya. Kau bungkam tanpa sedikitpun sapaan. Untungnya, kau tak dapat mendengar gemuruh dalam dadaku. Aku memandang hampa bayangmu yang jatuh tepat di retina mataku. Kau membuat segalanya seolah mudah untuk dilupakan. Dan kau tak akan pernah tahu tentang malam-malam yang kulalui dengan kerinduan. Disini aku memaki, melawan gravitasi, dan hanya bisa berteriak dalam sunyi. Aku letih berperang dalam hatiku. Akalku berusaha menolak bayang dirimu, tapi ruang kosong dalam hatiku mengundangmu setiap waktu. Aku benci dengan perubahanmu, tapi aku lebih menbenci diriku yang tak bisa berhenti berharap padamu. Harapan yang menjadi satu-satunya alasan untuk aku bertahan meski diatas selaksa kegetiran.
            Mungkin lebih baik seperti ini. Aku tidak memilikimu. dengan begitu, aku tak akan pernah kehilangan dirimu. Ada atau tiada rasa itu bagimu, tapi aku akan tetap menjaganya dan menyimpannya dalam cawan pengharapan. Karena aku percaya, mungkin di suatu masa akan ada kesempatan kedua bagi cinta kita. Hanya satu hal yang aku inginkan darimu sekarang.  izinkan aku merindukanmu dengan caraku. Dengan menuliskan segala hal tentangmu . meski ku tahu, dirimu masih serupa air yang tak tergenggam jemari rinduku. Aku tak peduli dengan hal itu. Karena yang ku tahu dan yang ingin kutanamkan pada diriku hanya satu. Harapanku tak harus mati, dan cinta juga tak harus memiliki.

mungkin ini adalah cara terbaik untuk menjelaskan segalanya


Aku tak tahu harus bagaimana lagi menjelaskan segalanya. Aku tak dapat berkata apa-apa. Mungkin hanya bisa menuliskannya. Jujur, menuliskannya pun terasa berat bagiku. Aku tahu, di antara kita berdua tak akan pernah ada yang berani berkata lebih dulu. Maka sebelumnya, aku minta maaf jika ada kata-kata dalam catatan ini yang tak berkenan di hatimu. Sampai saat inipun aku masih takut. Teramat takut jika apa yang kutulis ini akan membebani pikiranmu. Janji ya, setelah membaca ini tak usah di pikirkan lagi. Bukan apa-apa. Aku hanya tidak ingin menyusahkan dirimu dengan kelakuanku.
Kamu tahu, bangunan pertahanan yang aku buat mulai runtuh. Mungkin sudah hukum alamnya begitu. Tapi jangan khawatir, masih ada beberapa sisi bangunan yang bisa aku pertahankan. Dan dapat kupastikan, aku tak akan melibatkan dirimu dalam hal ini. Jalani saja hidupmu, seolah ini tak pernah ada. atau jika dirimu lebih nyaman dengan melupakan, lupakan saja. Mungkin dengan begitu segalanya akan lebih baik. Dan yang lebih penting, kau bisa bahagia karenanya.
Satu kesimpulan yang bisa aku ambil dari semuanya adalah kita sama-sama membaca. Kau membaca tentang diriku, begitu pula dengan diriku yang membaca tentangmu. Lalu kita akan saling terdiam dalam jeda panjang. Saling menerka kira-kira apa yang ada dipikiran masing-masing. Setelah itu, sama-sama menyimpannya dalam diam. Itu kesimpulanku. Tapi tolong benahi jika ada kesalahan, atau kesimpulan yang kubuat sama sekali berbeda dari sisi dirimu. Karna perlu kau ketahui, aku sangat suka membaca apa saja. Tapi satu hal yang tak dapat aku baca. Yaitu pikiranmu.
Tentang catatan-catatanku, tentu aku sangat berterima kasih kau berkenan membacanya.  Ketika  kau menyadari ada beberapa catatanku yang tertuju padamu, mungkin hal itu sudah tidak relevan lagi dengan kondisi sekarang ini. Dan tolong percaya, aku tak pernah bermaksud menyinggung perasaanmu atau hal yang menyakitkan lainnya. Tapi jika ada kata-kataku yang terlanjur menyakiti hatimu, aku mohon maaf yang sebesar-besarnya. Mungkin kau bosan dengan kata maafku. tolong di maklumi ya, sifatku memang begitu.  Aku tak tenang  jika ada seseorang yang mengganjal pikiranku dan aku selalu memikirkan kira-kira kesalahan apa yang aku perbuat padanya. Semoga permohonan maafku bisa menyentuh hatimu.
Aku akan berusaha membuat segalanya menjadi sederhana. Yah.. akan kucoba. Mohon doanya ya.
Oia, aku lupa berterimakasih. Mungkin yang kamu tak tahu, semenjak aku mengenalmu, aku mulai bisa membebaskan diriku dengan menulis sesuatu.  Sampai saat ini, ketika aku menuliskan catatan ini, dirimu masih menjadi alasan kenapa aku tetap menulis. Dan aku tak tahu bagaimana cara terbaik untuk menjelaskan semua yang aku rasa kecuali dengan menuliskannya. Jadi terimakasih banyak ya. Mulai saat ini, mari kita belajar saling memaafkan, mengikhlaskan, dan juga saling mendoakan. Semoga Allah selalu mendamaikan hati kita dengan segala ketentuan-NYA.
Jalanku dan jalanmu memang berbeda, tapi semoga Allah selalu meridhoi setiap langkah yang kita ambil. Dan mari kita bersahabat dengan sederhana .