tadi pagi, aku berjanji dalam hati akan menuliskan tentangmu hari ini. masih lekat di ingatanku ketika kau melepaskan kepergianku tanpa sedikitpun senyum di bibirmu. perih hatiku melihat sikapmu. aku rasa dirimu hanya menganggap aku perhiasan, bukan manusia. aku serupa berlian yang bisa kau pamerkan kepada siapa saja dan seolah memperlihatkan betapa 'hebatnya' anda. setelah itu anda simpan tanpa sedikitpun sapaan. duh bunda.. kenapa kau begitu berbeda?
dari balik jendela, aku selalu mendengarmu bercerita kepada mereka. kau jabarkan segala hal yang aku bisa, bahkan terkadang terlalu berlebihan. sebenarnya aku ingin berteriak mengoreksi setiap perkataanmu, tapi aku takut menjatuhkan dirimu. karena bagaimanapun, aku sayang padamu. teramat malah.. mungkin kau saja yang belum mengetahuimya
ketika dirumah, aku benar-benar seperti batu yang tak dapat berbuat apa-apa. kau anggap aku seakan tak ada. padahal aku ingin membantu sedikit pekerjaanmu, tapi respon darimu jauh dari harapanku. aku sudah coba apa yang aku bisa. tapi semua hal itu serasa tak ada gunanya. sejumlah karya dan prestasi hanya sebatas label pada diriku yang nanti bisa kau bangga-banggakan pada orang lain. aku sudah tak ingat lagi kapan terakhir kita bercengkrama. bagiku, waktu ketika kita bisa bicara berdua adalah momen yang teramat langka. percayalah. aku sangat merindukannya.
setiap kau berangkat mengaji, aku selalu memendam harap dan seraya berdoa dalam hati semoga ketika kau pulang nanti akan ada perubahan positif darimu. tapi sampai saat ini aku belum menemukan wujud cintamu yang jatuh tepat di retina mataku. entah kapan ya, aku bisa merasakannya. setidaknya, aku ingin diperlakukan sama dengan kakakku. aku selalu tersenyum getir ketika melihat betapa perhatiannya dirimu kepadanya. bun, aku juga dong.. please..
aku percaya, setiap orang pasti akan berubah. semoga kau juga begitu. aku akan menunggunya. jangan lama-lama ya bunda.. :)
pintaku sederhana,,
aku hanya ingin mengabdi padamu dengan cinta yang utuh tanpa sedikitpun rasa benci di hatiku.
semoga cintaku lekas menyentuh hatimu.
Minggu, 29 April 2012
Kamis, 26 April 2012
aku punya wacana untuk masa depan kita
sudah berapa lama kita mengenal? satu bulan, atau satu tahun? akh rasanya lebih lama dari itu. tapi aku selalu merasa baru kemarin kita bertemu. aku selalu suka ketika ada di sampingmu. mendengar setiap inci cerita bahagia dan sedihmu.bagiku, dirimu itu mengandung morfin yang memberikan efek bahagia pada diriku.sekarang kita sedang duduk bersama di bangku sebuah taman yang tak kukenal sebelumnya. temaram lampu taman menambah syahdu suasana. aku mulai berhitung dengan situasi. 10 detik berlalu, tapi dirimu belum juga angkat bicara. baiklah.. aku akan mulai perbincangan lebih dulu. tahukah kau? aku punya wacana untuk masa depan kita. aku sudah menyusun rencana dimana nanti kita akan menghabiskan sisa usia kita, juga tentang pengembangan bakat anak-anak kita nanti. kalau kita punya anak perempuan, aku ingin dia belajar memainkan biola. sedangkan anak laki-laki, aku ingin dia belajar memainkan piano. agar rumah kita nanti akan dipenuhi nada-nada indah yang akan menjadi penyejuk di keluarga kecil kita. tapi pada akhirnya, aku akan membebaskan mereka untuk jadi apa saja. selama itu baik, kenapa tidak? kurasa kau pun inginnya begitu. ah iya,, aku juga akan belajar memasak. terutama memasak makanan yang kau suka. maaf ya, jika sampai saat ini masakanku masih serba kekurangan. kurang garam, kurang gula, atau kekurangan yang lainnya. aku sudah dapat menebak rasa masakanku saat melihat wajahmu menyeringai ketika mencicipinya. dari sana aku tahu, bahwa ada sesuatu yang salah dengan masakanku. tapi kau selalu saja memujinya, dan dengan wajah terpaksa menghabiskannya. dan sesaat setelah itu, cintaku padamu akan selalu bertambah seperti kecepatan cahaya yang tak dapat dikalkulasikan dengan deretan angka. sudah tahu tentang itu? kurasa aku belum sempat mengatakan hal itu padamu.aku juga belum mengatakan tentang diriku yang kini sudah bisa menghilangkan kebiasaanku menuliskan nama di setiap kertas yang ada di depanku. itu memalukan katamu. haha
tawaku terhenti ketika menyadari ada hal yang aneh. kenapa kau tidak menanggapi perkataanku? bukankah kau selalu berkomentar atas apapun yang aku lakukan? aku hampir lupa bertanya kepadamu dimanakah kita berada. tapi tak ada guna jika aku bertanya sekarang. kulihat bayangmu perlahan memudar dan menghilang dari sisiku. aku tahu ini dimana. ternyata kita sedang berada dalam mimpiku. pantas saja semuanya terlihat begitu indah, bukankah dirimu memang sudah menghilang sejak dulu? aku benar-benar dikelabui oleh mimpiku sendiri, yasudah. biarkan aku bangun sekarang. karena aku harus melanjutkan hidupku tanpa bayangmu. aku harus menata hati dan pikiranku seraya mengubur dalam-dalam mimpi yang aku uraikan dalam mimpiku tadi. dan untuk dirimu, tolong jangan datang kedalam mimpiku lagi.
tawaku terhenti ketika menyadari ada hal yang aneh. kenapa kau tidak menanggapi perkataanku? bukankah kau selalu berkomentar atas apapun yang aku lakukan? aku hampir lupa bertanya kepadamu dimanakah kita berada. tapi tak ada guna jika aku bertanya sekarang. kulihat bayangmu perlahan memudar dan menghilang dari sisiku. aku tahu ini dimana. ternyata kita sedang berada dalam mimpiku. pantas saja semuanya terlihat begitu indah, bukankah dirimu memang sudah menghilang sejak dulu? aku benar-benar dikelabui oleh mimpiku sendiri, yasudah. biarkan aku bangun sekarang. karena aku harus melanjutkan hidupku tanpa bayangmu. aku harus menata hati dan pikiranku seraya mengubur dalam-dalam mimpi yang aku uraikan dalam mimpiku tadi. dan untuk dirimu, tolong jangan datang kedalam mimpiku lagi.
Jumat, 20 April 2012
membebaskan diriku dengan menulis sesuatu
Bisa terbaca dengan sangat jelas. Alamat blog ku adalah
‘ubahduniadengankata.blogspot.com’. aku belum lama bergabung disini. Kata
orang, menulis blog itu menyenangkan. Mereka bisa jadi benar. Tapi mungkin aku
belum bisa konsisten dengan visiku membuat blog. Aku ingin merubah dunia dengan
kata-kata. Tapi bagaimana bisa mengubah dunia? Mengubah pikiran satu orang
saja, aku belum tentu bisa. Hahaha apalagi aku belum punya pembaca. Yah..
tulisanku memang biasa-biasa saja. Belum bisa menggugah. Mungkin nanti, di
suatu hari akan tiba masanya. Masa dimana aku bisa menulis sesuatu yang berguna
bagi sesama, dan tentunya bisa merubah dunia. Aku terbiasa menulis sesuatu
tanpa ada seorangpun yang membacanya. Aku senang menimpannya untuk diriku
sendiri, dan mengenangnya di suatu hari. Tapi aku akan sangat bangga jika
tulisanku dibaca, dan di hargai.
Belum banyak yang tahu tentang blog ku ini. Mungkin karena
aku belum menjadi siapa-siapa, dan belum menjadi orang yang dicari tahu setiap
beritanya. Aku hanya seorang remaja yang ingin membebaskan diri dengan menulis
sesuatu. Setiap kata yang hinggap di kepalaku, sebisa mungkin aku tulis. Atau
aku menampungnya, dan menuliskannya kemudian hari. Bagiku, pekerjaan yang amat
luar biasa di dunia ini adalah menulis. Seperti berkunjung ke dunia yang
berbeda. Dunia dimana hanya diriku sendiri yang memahami esensinya. Semenjak
aku bisa membebaskan diriku dengan menulis sesuatu, aku hanya menuliskannya di
kertas biasa. Di buku yang bisa aku pakai untuk menuliskan pelajaran. Tanpa hiasan
atau motif seperti buku-buku diary yang biasa aku lihat ketika berkunjung ke
toko buku. Aku bermimpi untuk punya laptop agar dunia bias membaca tulisanku
dan aku akan semakin dekat dengan tujuanku. Yaitu bias merubah dunia dengan
kata-kata. Dan sementara ini, aku masih menuliskannya di kertas biasa dan
mempublikasikannya sesekali.
Suatu hari di masa
depan nanti, aku akan kembali membaca apa yang aku tulis saat ini dan
mengenangnya entah sambil menangis atau tertawa..
Minggu, 08 April 2012
merindukanmu dengan caraku
Merindukanmu
adalah salah satu hal yang paling mengganggu dalam hidupku. Sesibuk apapun
diriku, nyatanya aku masih bisa menyempatkan waktu untuk mengenang segala hal
tentangmu. Tahukah kau, kegiatan seperti ini amat menyesakkan. Bagaimana tidak, bayanganmu datang seperti
hantu yang gentayangan di pikiranku tanpa pernah izin terlebih dahulu.
Rinduku padamu tak seperti pelangi yang datang hanya
sesekali. Rinduku serupa udara yang mengisi setiap celah kosong hariku. Aku
tahu. Kini diriku tak penting lagi bagimu. Dan aku menyadari bahwa diriku kini
bukanlah orang pertama yang ingin kau ajak bercerita. Mungkin sekarang sudah
ada seseorang yang menjadi pendengar setia atas setiap cerita bahagia dan
sedihmu. Disini, dengan perih getirnya perasaanku, aku masih berharap kau
kembali seperti dulu. Tapi aku hanya bisa berharap dalam diamku.
Masih lekat di ingatanku ketika kita pertama kali
bertemu. Juga ingatan tentang
pertemuan-pertemuan kecil yang sengaja kita buat dengan berjuta alasan. Lucu
memang. Bahkan terkadang salah satu dari kita harus berkorban untuk membayar
harga mahal sebuah pertemuan. Aku masih mengingat detail tentang dirimu.
Tentang kamu yang selalu mengomentari aksesoris yang kupakai, atau tentang
kebiasaanmu memainkan pulpen di sela jemarimu. Aku selalu suka ketika kamu
bercerita dan menjelaskan sesuatu padaku. Dari sanalah aku menyadari bahwa kau
mengagumkan. Kau bukan laki-laki biasa. Setidaknya bagi diriku dan dalam
hidupku.
Sebentar. Aku mau menghela nafas dulu. Karena mengingat
bagian ini amat menguras hati dan air mataku. Seperti video rekaman yang di
putar ulang, kenangan tentang hari itu hadir dan berputar-putar di kepalaku.
Kenangan tentang hari yang seharusnya indah bagi kita, tapi aku malah menghancurkan
segalanya.
Pada hari itu, kau membawaku ke tempat yang sebelumnya
tak pernah aku kunjungi. Katamu, aku akan suka tempat itu. Yah.. kau memang
benar. Tubuhku seketika kaku ketika melihat pemandangan yang ada di hadapanku.
Hamparan taman bunga berjuta warna. Aku terdiam dalam jeda penjang. Lalu
kurasakan dirimu memetik hujan di bumi hatiku yang kering kerontang. Waktu
seakan terhenti ketika kau menyatakan cintamu lewat sebuah lagu
Now that I’ve tried to
Talk to you and make you understand
More than words to show my feel
That my love for you it’s real
Sepenggal lagu yang
amat kukenali dan aku sempat tertawa ketika menyadari ada beberapa lirik yang
kau ganti. Setelah itu kita sama-sama terdiam. Tapi sayang, pada saat itu aku
gagal membaca tanda yang tergurat jelas di langit biru hatimu.ya Tuhan.. apa
yang sudah aku katakan padamu? Aku malah menyuruh kau untuk menunggu. Lalu
dirimu mengartikan itu sebagai penolakan dariku. Aku menyadari telah melakukan
sebuah kekeliruan. Aku ingat sekali, pada hari itu kau mengantarku pulang. Tapi
tak ada percakapan sepanjang perjalanan. Kita tenggelam dalam pikiran
masing-masing. Dan sejak saat itu, aku menyadari bahwa dirimu memutuskan untuk
pergi. Aku terus mencari dirimu tapi tak kunjung kutemui. Kau seakan hilang
ditelan bumi dan pergi meninggalkan jasad memar ini.
Maaf, aku menangis lagi. Karena ini adalah bagian yang
paling aku sesali.
Beberapa bulan berselang, dan aku menemukan dirimu
sebagai sosok yang baru. Segalanya tak sama lagi. Tak ku temukan lagi binar itu
dari matamu. Kita bertemu seolah tak pernah mengenal sebelumnya. Kau bungkam
tanpa sedikitpun sapaan. Untungnya, kau tak dapat mendengar gemuruh dalam
dadaku. Aku memandang hampa bayangmu yang jatuh tepat di retina mataku. Kau
membuat segalanya seolah mudah untuk dilupakan. Dan kau tak akan pernah tahu
tentang malam-malam yang kulalui dengan kerinduan. Disini aku memaki, melawan
gravitasi, dan hanya bisa berteriak dalam sunyi. Aku letih berperang dalam
hatiku. Akalku berusaha menolak bayang dirimu, tapi ruang kosong dalam hatiku
mengundangmu setiap waktu. Aku benci dengan perubahanmu, tapi aku lebih
menbenci diriku yang tak bisa berhenti berharap padamu. Harapan yang menjadi
satu-satunya alasan untuk aku bertahan meski diatas selaksa kegetiran.
Mungkin lebih baik seperti ini. Aku tidak memilikimu.
dengan begitu, aku tak akan pernah kehilangan dirimu. Ada atau tiada rasa itu
bagimu, tapi aku akan tetap menjaganya dan menyimpannya dalam cawan
pengharapan. Karena aku percaya, mungkin di suatu masa akan ada kesempatan
kedua bagi cinta kita. Hanya satu hal yang aku inginkan darimu sekarang. izinkan aku merindukanmu dengan caraku.
Dengan menuliskan segala hal tentangmu . meski ku tahu, dirimu masih serupa air
yang tak tergenggam jemari rinduku. Aku tak peduli dengan hal itu. Karena yang
ku tahu dan yang ingin kutanamkan pada diriku hanya satu. Harapanku tak harus
mati, dan cinta juga tak harus memiliki.
mungkin ini adalah cara terbaik untuk menjelaskan segalanya
Aku tak tahu harus bagaimana lagi menjelaskan segalanya. Aku
tak dapat berkata apa-apa. Mungkin hanya bisa menuliskannya. Jujur,
menuliskannya pun terasa berat bagiku. Aku tahu, di antara kita berdua tak akan
pernah ada yang berani berkata lebih dulu. Maka sebelumnya, aku minta maaf jika
ada kata-kata dalam catatan ini yang tak berkenan di hatimu. Sampai saat inipun
aku masih takut. Teramat takut jika apa yang kutulis ini akan membebani
pikiranmu. Janji ya, setelah membaca ini tak usah di pikirkan lagi. Bukan
apa-apa. Aku hanya tidak ingin menyusahkan dirimu dengan kelakuanku.
Kamu tahu, bangunan pertahanan yang aku buat mulai runtuh.
Mungkin sudah hukum alamnya begitu. Tapi jangan khawatir, masih ada beberapa
sisi bangunan yang bisa aku pertahankan. Dan dapat kupastikan, aku tak akan
melibatkan dirimu dalam hal ini. Jalani saja hidupmu, seolah ini tak pernah
ada. atau jika dirimu lebih nyaman dengan melupakan, lupakan saja. Mungkin
dengan begitu segalanya akan lebih baik. Dan yang lebih penting, kau bisa bahagia
karenanya.
Satu kesimpulan yang bisa aku ambil dari semuanya adalah
kita sama-sama membaca. Kau membaca tentang diriku, begitu pula dengan diriku
yang membaca tentangmu. Lalu kita akan saling terdiam dalam jeda panjang.
Saling menerka kira-kira apa yang ada dipikiran masing-masing. Setelah itu,
sama-sama menyimpannya dalam diam. Itu kesimpulanku. Tapi tolong benahi jika
ada kesalahan, atau kesimpulan yang kubuat sama sekali berbeda dari sisi
dirimu. Karna perlu kau ketahui, aku sangat suka membaca apa saja. Tapi satu
hal yang tak dapat aku baca. Yaitu pikiranmu.
Tentang catatan-catatanku, tentu aku sangat berterima kasih
kau berkenan membacanya. Ketika kau menyadari ada beberapa catatanku yang
tertuju padamu, mungkin hal itu sudah tidak relevan lagi dengan kondisi
sekarang ini. Dan tolong percaya, aku tak pernah bermaksud menyinggung
perasaanmu atau hal yang menyakitkan lainnya. Tapi jika ada kata-kataku yang
terlanjur menyakiti hatimu, aku mohon maaf yang sebesar-besarnya. Mungkin kau
bosan dengan kata maafku. tolong di maklumi ya, sifatku memang begitu. Aku tak tenang jika ada seseorang yang mengganjal pikiranku
dan aku selalu memikirkan kira-kira kesalahan apa yang aku perbuat padanya.
Semoga permohonan maafku bisa menyentuh hatimu.
Aku akan berusaha membuat segalanya menjadi sederhana. Yah..
akan kucoba. Mohon doanya ya.
Oia, aku lupa berterimakasih. Mungkin yang kamu tak tahu,
semenjak aku mengenalmu, aku mulai bisa membebaskan diriku dengan menulis
sesuatu. Sampai saat ini, ketika aku
menuliskan catatan ini, dirimu masih menjadi alasan kenapa aku tetap menulis.
Dan aku tak tahu bagaimana cara terbaik untuk menjelaskan semua yang aku rasa
kecuali dengan menuliskannya. Jadi terimakasih banyak ya. Mulai saat ini, mari
kita belajar saling memaafkan, mengikhlaskan, dan juga saling mendoakan. Semoga
Allah selalu mendamaikan hati kita dengan segala ketentuan-NYA.
Jalanku dan jalanmu memang berbeda, tapi semoga Allah selalu
meridhoi setiap langkah yang kita ambil. Dan mari kita bersahabat dengan sederhana .
Langganan:
Komentar (Atom)