Aku tak tahu harus bagaimana lagi menjelaskan segalanya. Aku
tak dapat berkata apa-apa. Mungkin hanya bisa menuliskannya. Jujur,
menuliskannya pun terasa berat bagiku. Aku tahu, di antara kita berdua tak akan
pernah ada yang berani berkata lebih dulu. Maka sebelumnya, aku minta maaf jika
ada kata-kata dalam catatan ini yang tak berkenan di hatimu. Sampai saat inipun
aku masih takut. Teramat takut jika apa yang kutulis ini akan membebani
pikiranmu. Janji ya, setelah membaca ini tak usah di pikirkan lagi. Bukan
apa-apa. Aku hanya tidak ingin menyusahkan dirimu dengan kelakuanku.
Kamu tahu, bangunan pertahanan yang aku buat mulai runtuh.
Mungkin sudah hukum alamnya begitu. Tapi jangan khawatir, masih ada beberapa
sisi bangunan yang bisa aku pertahankan. Dan dapat kupastikan, aku tak akan
melibatkan dirimu dalam hal ini. Jalani saja hidupmu, seolah ini tak pernah
ada. atau jika dirimu lebih nyaman dengan melupakan, lupakan saja. Mungkin
dengan begitu segalanya akan lebih baik. Dan yang lebih penting, kau bisa bahagia
karenanya.
Satu kesimpulan yang bisa aku ambil dari semuanya adalah
kita sama-sama membaca. Kau membaca tentang diriku, begitu pula dengan diriku
yang membaca tentangmu. Lalu kita akan saling terdiam dalam jeda panjang.
Saling menerka kira-kira apa yang ada dipikiran masing-masing. Setelah itu,
sama-sama menyimpannya dalam diam. Itu kesimpulanku. Tapi tolong benahi jika
ada kesalahan, atau kesimpulan yang kubuat sama sekali berbeda dari sisi
dirimu. Karna perlu kau ketahui, aku sangat suka membaca apa saja. Tapi satu
hal yang tak dapat aku baca. Yaitu pikiranmu.
Tentang catatan-catatanku, tentu aku sangat berterima kasih
kau berkenan membacanya. Ketika kau menyadari ada beberapa catatanku yang
tertuju padamu, mungkin hal itu sudah tidak relevan lagi dengan kondisi
sekarang ini. Dan tolong percaya, aku tak pernah bermaksud menyinggung
perasaanmu atau hal yang menyakitkan lainnya. Tapi jika ada kata-kataku yang
terlanjur menyakiti hatimu, aku mohon maaf yang sebesar-besarnya. Mungkin kau
bosan dengan kata maafku. tolong di maklumi ya, sifatku memang begitu. Aku tak tenang jika ada seseorang yang mengganjal pikiranku
dan aku selalu memikirkan kira-kira kesalahan apa yang aku perbuat padanya.
Semoga permohonan maafku bisa menyentuh hatimu.
Aku akan berusaha membuat segalanya menjadi sederhana. Yah..
akan kucoba. Mohon doanya ya.
Oia, aku lupa berterimakasih. Mungkin yang kamu tak tahu,
semenjak aku mengenalmu, aku mulai bisa membebaskan diriku dengan menulis
sesuatu. Sampai saat ini, ketika aku
menuliskan catatan ini, dirimu masih menjadi alasan kenapa aku tetap menulis.
Dan aku tak tahu bagaimana cara terbaik untuk menjelaskan semua yang aku rasa
kecuali dengan menuliskannya. Jadi terimakasih banyak ya. Mulai saat ini, mari
kita belajar saling memaafkan, mengikhlaskan, dan juga saling mendoakan. Semoga
Allah selalu mendamaikan hati kita dengan segala ketentuan-NYA.
Jalanku dan jalanmu memang berbeda, tapi semoga Allah selalu
meridhoi setiap langkah yang kita ambil. Dan mari kita bersahabat dengan sederhana .
inspiratif adekku :D
BalasHapusini tulisan ngasal ka :D haha
BalasHapus