Minggu, 08 April 2012

mungkin ini adalah cara terbaik untuk menjelaskan segalanya


Aku tak tahu harus bagaimana lagi menjelaskan segalanya. Aku tak dapat berkata apa-apa. Mungkin hanya bisa menuliskannya. Jujur, menuliskannya pun terasa berat bagiku. Aku tahu, di antara kita berdua tak akan pernah ada yang berani berkata lebih dulu. Maka sebelumnya, aku minta maaf jika ada kata-kata dalam catatan ini yang tak berkenan di hatimu. Sampai saat inipun aku masih takut. Teramat takut jika apa yang kutulis ini akan membebani pikiranmu. Janji ya, setelah membaca ini tak usah di pikirkan lagi. Bukan apa-apa. Aku hanya tidak ingin menyusahkan dirimu dengan kelakuanku.
Kamu tahu, bangunan pertahanan yang aku buat mulai runtuh. Mungkin sudah hukum alamnya begitu. Tapi jangan khawatir, masih ada beberapa sisi bangunan yang bisa aku pertahankan. Dan dapat kupastikan, aku tak akan melibatkan dirimu dalam hal ini. Jalani saja hidupmu, seolah ini tak pernah ada. atau jika dirimu lebih nyaman dengan melupakan, lupakan saja. Mungkin dengan begitu segalanya akan lebih baik. Dan yang lebih penting, kau bisa bahagia karenanya.
Satu kesimpulan yang bisa aku ambil dari semuanya adalah kita sama-sama membaca. Kau membaca tentang diriku, begitu pula dengan diriku yang membaca tentangmu. Lalu kita akan saling terdiam dalam jeda panjang. Saling menerka kira-kira apa yang ada dipikiran masing-masing. Setelah itu, sama-sama menyimpannya dalam diam. Itu kesimpulanku. Tapi tolong benahi jika ada kesalahan, atau kesimpulan yang kubuat sama sekali berbeda dari sisi dirimu. Karna perlu kau ketahui, aku sangat suka membaca apa saja. Tapi satu hal yang tak dapat aku baca. Yaitu pikiranmu.
Tentang catatan-catatanku, tentu aku sangat berterima kasih kau berkenan membacanya.  Ketika  kau menyadari ada beberapa catatanku yang tertuju padamu, mungkin hal itu sudah tidak relevan lagi dengan kondisi sekarang ini. Dan tolong percaya, aku tak pernah bermaksud menyinggung perasaanmu atau hal yang menyakitkan lainnya. Tapi jika ada kata-kataku yang terlanjur menyakiti hatimu, aku mohon maaf yang sebesar-besarnya. Mungkin kau bosan dengan kata maafku. tolong di maklumi ya, sifatku memang begitu.  Aku tak tenang  jika ada seseorang yang mengganjal pikiranku dan aku selalu memikirkan kira-kira kesalahan apa yang aku perbuat padanya. Semoga permohonan maafku bisa menyentuh hatimu.
Aku akan berusaha membuat segalanya menjadi sederhana. Yah.. akan kucoba. Mohon doanya ya.
Oia, aku lupa berterimakasih. Mungkin yang kamu tak tahu, semenjak aku mengenalmu, aku mulai bisa membebaskan diriku dengan menulis sesuatu.  Sampai saat ini, ketika aku menuliskan catatan ini, dirimu masih menjadi alasan kenapa aku tetap menulis. Dan aku tak tahu bagaimana cara terbaik untuk menjelaskan semua yang aku rasa kecuali dengan menuliskannya. Jadi terimakasih banyak ya. Mulai saat ini, mari kita belajar saling memaafkan, mengikhlaskan, dan juga saling mendoakan. Semoga Allah selalu mendamaikan hati kita dengan segala ketentuan-NYA.
Jalanku dan jalanmu memang berbeda, tapi semoga Allah selalu meridhoi setiap langkah yang kita ambil. Dan mari kita bersahabat dengan sederhana .

2 komentar: